|
GCG atau Good Corporate Governance, ada yang mengistilahkan dengan Pentabiran Perusahaan yang Baik. Makhluk jenis baru ini, memang sulit terbayangkan kaum awam. Namun yang perlu difahami, bahwa GCG, bukanlah sebuah senjata untuk membidik atau memberantas KKN. Walapun benar, GCG mengandung indikator “Clean and Obey”.
Di lingkungan TELKOM GCG telah dipraktekan sejak tahun 2000 silam. Para Senior Leader TELKOM begitu gegap gempita dam antusias untuk menerapkannya. Hasilnya pun tak bisa dibilang gagal, karena kenyataannya dalam tiga tahun terakhir BUMN pemegang National Flag Carrier ini kerap meraih penghargaan sebagai “BUMN Terbaik dalam Implementasi GCG”. Apa kiat Manajemen dan Senior Leader TELKOM dalam melaksanakan restrukturisasi perusahaan dalam upaya implementasi GCG ini? Menjaga performa Ada yang menafsirkan GCG sebagai perwujudan sosok perusahaan dengan menterengnya sebuah gedung perusahaan dilengkapi sarana dan prasarana serba up to date. Kondisi ruangan nyaman dan bersih dengan sistem pendingin yang terjaga kesegarannya. Begitu pula sarana dan prasarana yang tak hanya serba canggih namun juga tertata estetis. Penampilan karyawannya pun begitu terjaga, walau tak harus berjas-dasi. Dan terpenting raut wajah seluruh warga perusahaan memancarkan cahaya keramahan dan keikhlasan melayani. Kondisi perusahaan yang memenuhi kriteria GCG seperti itu, kini tak hanya berada nun di negeri Paman Sam sana., namun juga di Indonesia sudah semakin bertebaran. Sebut saja gedung-gedung di lingkungan TELKOM yang tersebar di beberapa kawasan divisi regional. Kabarnya, sebuah perusahaan yang GCG akan membentuk sebuah lingkungan kerja serba nyaman dan necis, sehingga sanggup memperkukuh motivasi pegawai dalam bekerja. Namun bagaimana pun hebatnya lingkungan kerja, betapapun lengkapnya sarana dan prasarana, serta betapapun tingginya kualitas SDM, namun jika tanpa adanya faktor keikhlasan dalam bekerja sebagai modal dasar utama, bukan kah itu sia-sia? Tiga pilar pengokoh Dalam melaksanakan GCG, Manajemen dan Senior Leaders TELKOM telah menyepakati untuk didukung oleh tiga pilar pengokoh, yakni adanya Semangat, Kerjasama Solid dan Saling Percaya. Tiga kata kunci ini rupanya telah benar-benar menjadi bagian dari sikap, perilaku dan budaya kerja seluruh jajaran TELKOM. Ini tentu sangat positif, terutama pada saat dihadapkan pada suatu kompetisi eksternal akan memiliki daya resistensi terhadap pengaruh-pengaruh buruk yang dapat mempengaruhi produktivitas dan kinerja TELKOM. TELKOM memang begitu terobsesi untuk menjadi sebuah BUMN yang mampu melaksanakan prinsip-prinsip GCG. Bahkan melalui KD No.31 tanggal 24 Juni 2004, telah diperkokoh pula dengan Etika Bisnis dan Etika Usaha. Hal ini telah menunjukkan konsistensi TELKOM dalam melaksanakan GCG. Sebab pada dasarnya GCG itu menyangkut suatu etika usaha yang mengacu pada fairness, clean and equitable. Mantan Dirut TELKOM Kristiono, seringkali menyampaikan “key message” kepada jajarannya, bahwa untuk menjadi perusahaan yang “excellence” itu setidaknya harus didukung oleh tiga faktor utama, yakni moral yang baik, sistem yang kondusif, serta adanya kejelasan dalam memberikan punishment and reward. Namun, moral siapa dan seperti apa, Kristiono yang dilingkungan TELKOM akrab dipanggil KR ini mengatakan, tentu saja moral yang dimiliki SDM terutama para Senior Leadernya. “Saya tekankan pada Senior Leadernya, karena moral itu harus dibentuk dari atas, sebagai suatu style dari atas yang harus memancarkan sinar suri teladan kepada bawahannya,” begitu kata KR peraih CEO BUMN Terbaik Indonesia 2003 ini. Dengan demikian, guna membentuk moral yang baik memang perlu adanya standar atau kriteria moral yang baku. Tak cukup dalam bentuk perangkat peraturan semata, namun juga harus didukung oleh suatu budaya perusahaan. Katakanlah suatu budaya yang mengarah pada penciptaan kondisi lingkungan yang bersih, transparan, dan profesional. Budaya korporasi “The TELKOM Way 135” telah cukup mampu mengakomodasi, baik standar etika bisnis dan usaha, maupun standar moral. Apakah GCG identik dengan citra positif sebuah perusahaan? Jawabannya, pasti. Bahkan tak hanya citra terbaik, namun juga mencerminkan adanya faktor reputasi dan keteladanan pimpinan. Mencerminkan adanya orientasi sasaran kepada pelayanan terbaik, hasil terbaik serta kaya inovasi (well inovation). Ini berarti, selain dibutuhkan suatu penanaman nilai yang lebih intens, juga dibutuhkan suatu strategi komunikasi agar pegawai memahami benar terhadap visi dan misi perusahaan. Dengan demikian bahwa Visi, misi dan objective goals perusahaan, harus benar-benar dikuasai dan difahami sepenuhnya oleh warga perusahaan. Tanpa pengertian ini, bisa dipastikan akan mengalami kesulitan dalam mencapai standar pelayanan yang diharapkaan, semisal standar pelayanan kelas dunia, baldrige. Selain untuk menjadi perusahaan yang GCG dibutuhkan pula suatu sense of belongingness dan sense of responsibility. Tumbuhnya rasa memiliki dan rasa tanggung jawab yang besar, baik secara internal kepada sesama jajaran, maupun eksternal kepada pelanggan, pemegang saham dan pemerintah, akan memicu tumbuhnya keinginan untuk senantiasa menjadi yang terbaik serta terdorong untuk senantiasa“leading”. Bahkan lebih menitik beratkan pada pentingnya faktor commitment dan consern di kalangan Senior Leader TELKOM, setidaknya hingga level tertentu, guna membentuk suatu budaya kerja yang khas di kalangan eksekutif. Sebagai contoh tampilan Gedung Telkom Divre-V Jawa Timur, di Jl. Ketintang, Surabaya yang menurut penilaian Tim Baldrige, dapat dikategorikan sebagai GCG. Memang tak bisa dipungkiri pentingnya tampilan fisik ruangan untuk menjadi sebuah perusahaan yang GCG. Upaya ke arah itu, dilakukan guna mewujudkan atau membentuk suatu budaya kerja, yang di lingkungan Divre-V Jawa Timur sebelum munculnya budaya TTW 135, diwujudkan dalam “Budaya 6-R”, yang meliputi : Ringkas (Sisih), Rapi (Susun), Resik (Sapu), Rawat (Standar), Rajin (Sikap), dan Ramah (Simpati). Pemahaman GCG seperti itu sedikit membuka mata dan pikiran kita, bahwa Good Corporate Governance, rupa-rupanya tak segagah namanya. Kalau yang dibicarakan soal tata kelola perusahaan yang baik, semua perusahaan tentu akan sangat mafhum. Jadi sebenarnya, baik secara sadar atau tidak, semua perusahaan telah berupaya untuk menjadikan perusahaannya berpredikat sebagai Good Corporate Governance. Namun demikian, ternyata untuk mentabirkan sebuah perusahaan yang baik itu, ada metoda dan strateginya, yang justru tidak mudah dijelmakan seperti mudahnya membalik telapak tangan. Karena ternyata banyak pihak internal yang harus diimprove sebagai konsekuensi logis warga perusahaan. Manajemn dan SL TELKOM tentunya memprioritaskan pelaksanaan GCG sebagai suatu prinsip baru atau sebagai paradigma baru yang lebih terbuka dan profesional. Bahkan di dalamnya melibatkan sebuah transformasi budaya, yakni sebuah budaya yang mendasarkan pada norma-norma baru dan etika profesional. Efek ekonomi makro Kondisi ekonomi makro ternyata berpengaruh pula terhadap image perusahaan. Perhatikan saja pada saat terjadi Krisis ekonomi Asia Timur, banyak perusahaan yang “Bad Corporate Governance.” Bahkan akibat terpuruknya ekonomi Indonesia sejak pertengahan 1997 silam hingga menjamurnya musim bom terorisme, mengakibatkan di beberapa sektor usaha mengalami kelumpuhan. Sektor pariwisata nyaris remuk redam, arus investasi anjlok 72%, cadangan devisa harus ditutup dengan menggali lubang baru, defisit anggaran mencekikr, pertumbuhan ekonomi menurun, sementara 40 juta penganggur menunggu jamahan pemikiran. Terjerembabnya sektor usaha ini, berdampak pula pada sektor lainnya yang tak kurang mengenaskan. Kondisi itu terjadi, selain diakibatkan oleh kondisi resesi di Asia dan dunia, juga sebagai dampak kondisi di dalam negeri yang acapkali diwarnai oleh terjadinya pelbagai konflik di kalangan elit politik, elit ekonomi, bahkan elit intelektual. Rawannya kondisi politis dan keamanan diikuti dengan timbulnya resesi ekonomi secara makro sudah cukup “menggebuk” kalangan dunia usaha nasional dan merosotnya tingkat hidup masyarakat dengan dampak lebih dalam menimbulkan kerawawan sosial. Dalam kondisi seperti itu boro-boro mikirin perusahaan untuk ber-GCG, bisa survive pun sudah “bersujud”. Kurangnya perhatian terhadap pelaksanaan GCG, tak hanya diakibatkan oleh faktor kondisi eksternal dan kapabilitas internal, namun sering diperkuat pula oleh munculnya kebijakan perusahaan yang kurang mendukung program-program pengawasan, pengabaian peraturan dan kurang transparan. Akibatnya prilaku manajemen banyak mengalami distorsi. Misalnya policy yang menyimpang, biasanya akibat adanya penekanan, terutama oleh regulator terhadap owner perusahaan yang duduk dalam board of directore (BOD), maupun terjadinya demotivasi sebagai akibat kurangnya insentif di tingkat direksi dan manajer. Butuh kecerdasan (quotient) Harus diakui, GCG yang dilaksanakan TELKOM telah menjadi sebuah target yang sangat krusial bagi perusahaan. Tak hanya dalam skala mikro ekonomi intern perusahaan, namun juga secara makro akan turut mempengaruhi dan berdampak langsung terhadap image sebuah perusahaan. Untuk menghindari keterpurukan, maka konsep GCG di TELKOM mulai mencuat ke permukaan melalui beberapa target sasaran pencapaian, antara lain : pencanangan kembali untuk mencapai sasaran jangka panjang, pencapaian target usaha, pemeliharaan aset perusahaan, transparansi usaha, serta bagi perusahaan go public keharusan untuk menjaga kepatuhan pada aturan pasar modal. Kelemahan penerapan GCG saat ini banyak dipengaruhi oleh masih lemahnya law enforcement; lemahnya pasar modal terutama sebagai akibat banyaknya spekulan serta minimnya investor; tingginya konsentrasi pada “owner” sehingga menjadi kurang transparan; lemahnya peran komisaris dalam pengawasan; serta adanya lack of sense at competitiveness atau kurangnya prilaku dan budaya berkompetisi disertai munculnya sistem perlindungan (protection) dari pemerintah sehingga banyak perusahaan menjadi manja. Namun bagi Manajemen, para SL hingga direksi TELKOM penekanan konsep GCG tetap harus mampu menyentuh kepuasan pada enam pihak, yakni : Employee, Customers, Government, Shareholders, Bankers, dan Suppliers. Sebab apabila keenam pihak tersebut relatif tidak puas, maka penerapan GCG boleh dibilang gagal karena tidak mampu memberikan benefit dan makna (beneficial & meaningfull). Bahkan akan berdampak pada semakin mahalnya biaya pegawai, biaya modal usaha serta biaya pemeliharaan material. Mengingat perwujudan GCG terkait pula dengan prilaku dan etika bisnis, maka dalam penerapan di lingkungan TELKOM tidak hanya membutuhkan tingkat kecerdasan intelektual (IQ, spiritual quotient), kecerdasan spiritual (SQ, spiritual quotient) dan kecerdasan prilaku (BQ, behaviour quotient). Namun juga dibutuhkan kecerdasan emosional (EQ,, emotional quotient). Ini berati di dalamnya, akan terkait pula dengan sentuhan logika, etika, estetika, kerjasama, komunikasi dan kemampuan empati. Menerapkan GCG pada sebuah perusahaan, kini jelas membutuhkan keterlibatan seluruh komponen yang ada dalam perusahaan itu. Walaupun sangat difahami bahwa pada gilirannya peranan Komisaris, Direksi dan Senior Leader lah yang merupakan tiga komponen paling menetukan keberhasilan implementasi GCG. Iya, kan! (
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
) |